Memutus Kebiasaan “Nyengkelat”

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kantor : JL Sunan Ampel II Blok C. No 9. BTN Bumi Kodya Asri Jempong Baru-Mataram Email : lakpesdampwnuntb@gmail.com // IG : @lakpesdampwnuntb // FB : Lakpesdam PWNU NTB contak person : 081239027536

Abu Macel

Abu Macel

Memutus Kebiasaan “Nyengkelat”

Tuesday, 8 October 2019

Nyengkelat adalah perilaku yang tidak sehat. Istilah ini kemungkinan tidak familier pada generasi milenial. Nyengkelat adalah kata atau istilah dari bahasa orang Sasak yang berkonotasi dengan kebiasaan orang atau kelompok masyarakat yang tidak menyadari bahanya buang air besar (nai) sembarangan. Kata-kata ini jamak dan akan mudah difahami jika dibunyikan dan atau didengar oleh orang-orang tua/generasi 90-an keatas.

Praktik nyengkelat jaman dulu berkorelasi dengan musim kemarau seperti sekarang ini. ketiadaan akses atas air menjadi salah satu faktor pemicu kebiasaan buruk ini dilakoni oleh orang-orang tua Sasak jaman dulu dan sampai saat ini pada wilayah-wilayah tertentu, (mungkin saja berlaku bagi masyarakat diluar Sasak dengan istilah yang berbeda). Selain soal hambatan atas akses warga terhadap air, pengetahuan mereka akan penyakit yang dapat ditimbulkan dengan kebiasaan nyengkelat tidak memadai serta akses masyarakat terhadap jamban masih sangat terbatas. Sehingga telabah (sungai), erat (parit), kebon (kebun), bangket (swah), leah (pekarangan) dan laut menjadi pilihan tempat menyalurkan keinginan membuang kada’ hajat mereka.

Kini kebiasaan masyarakat tersebut mendapatkan perhatian dari pemerintah, karena sadar dengan ragam penyakit yang ditimbulkan oleh kebiasaan nyengkelat seperti : diare, kolera, disentri, cacingan, tifus, gangguan saluran pencernaan dan penyakit berbahaya lainnya.

Melawan kebiasaan nyengkelat pemerintah mendorong lahirnya gerakan Open Defecation Free (ODF), yaitu sebuah gerakan yang direkayasa guna mendorong setiap orang untuk tidak buang air besar sembarangan (BABS), terutama pada tempat-tempat terbuka yang potensial mengganggu indra penciuman dan penglihatan serta memutus penyebaran penyakit berbasis lingkungan. 

Dalam mensukseskan gerakan ini tentu harus ada usaha yang terus-menerus untuk merubah kebiasaan masyarakat dengan memperbanyak upaya sosialisasi dan penguatan kapasitas kepada masyarakat sehingga mendorong lahirnya kesadaran bahwa kebiasaan nyengkelat tidak baik. Disamping itu support dari pemerintah dalam bentuk fasilitasi jamban harus diupayakan secara maksimal dan terus menerus melalui penyiapan anggaran di APBN, APBD maupun di APBDes, sampai terbentuk kemandirian dan tidak ada lagi praktik nyengkelat dimasyarakat. Juga dapat didorong adanya dukungan dari pihak pengusaha dan swasta menyalurkan CSR-nya untuk penyediaan jamban bagi masyarakat baik yang sifatnya perorangan maupun jamban kolektif yang bisa dimanfaatkan banyak orang.

 Apa yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama pemerintah desanya yang mendorong gerakan Open Defecation Free (ODF), dengan mengalokasikan anggaran pada APBDesnya, patut didukung dan diapresiasi.

Penulis : Ketua Lakpesdam PWNU NTB