MODERASI BERAGAMA BERBASIS KESADARAN RUANG DAN WAKTU

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kantor : JL Sunan Ampel II Blok C. No 9. BTN Bumi Kodya Asri Jempong Baru-Mataram Email : lakpesdampwnuntb@gmail.com // IG : @lakpesdampwnuntb // FB : Lakpesdam PWNU NTB contak person : 081239027536

Abu Macel

Abu Macel

MODERASI BERAGAMA BERBASIS KESADARAN RUANG DAN WAKTU

Wednesday, 24 November 2021


[ Oleh: Agus Dedi Putrawan ]

 

Dalam rangka menjaga keharmonisan berbangsa dan bernegara, hampir semua orang sepakat dengan konsep moderasi beragama. Dalam Islam dikenal dengan Islam moderat. Moderasi berarti moderat, lawan kata dari ekstrem, atau yang berlebihan dalam menyikapi perbedaan dan keragaman. Kata moderat sendiri dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-wasathiyah. yang bermakana terbaik dan paling sempurna.

Islam Wasathiyyah yang berimplikasi pada konsep tawazun (berkeseimbangan), i’tidâl (lurus dan tegas), tasamuh (toleransi), musawah (egaliter), syura (musyawarah), ishlah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif),[1] namun hampir semua masih terjebak pada definisi.

Romantisisme akan keindahan makna dari narasi-narasi tidak boleh hanya berkutat dan selesai pada panggung-panggung pengajian, seminar, workshop, lokakarya dan diskusi-diskusi di warung kopi kemudian melepas individu-individu untuk belajar dan mempraktikkannya sendiri-sendiri. Padahal sejatinya konsep-konsep di atas dibutuhkan oleh semua orang untuk menciptakan perdamaian dalam dunia sosial. Maka dari itu untuk mewujudkan moderasi beragama dibutuhkan kesadaran ruang dan waktu dari setiap individu.

A.     Konsep Kesadaran, Ruang Dan Waktu

Hampir semua aktivitas manusia tidak terlepas pada konteks ruang dan waktu. Ruang dan waktu memberi makna terhadap segala aktivitas manusia. Aktivitas Jogging sangatlah baik, namun tidak akan bermakna jika dilakukan di jam 01:00 WIta. Perbedaan jam dalam sebuah aktivitas akan merubah pula makna yang akan dilahirkan.

Selanjutnya memainkan alat musik seruling di sawah atau di gunung akan membuat suasana hidup, namun berbeda jika dilakukan ketika khatib sedang berkhutbah di masjid.  Aktivitas yang sama di ruang berbeda akan memberi makna yang berbeda pula.

1.      Waktu.

 Waktu yang dimaksud dalam tulisan ini dibedakan menjadi dua yaitu waktu psikologis dan waktu eksistensial. Waktu psikologis adalah waktu yang disepakati oleh manusia sebagai masa lalu, sekarang dan masa depan. Manusia sedih karena teringat atas kejadian-kejadian yang pernah dialami di masa lalu, manusia gelisah karena teringat atas rencana-rencana di masa yang akan datang.

Sedangkan waktu eksistensial adalah waktu yang dimiliki oleh manusia secara ril ketika mengada di dunia secara linier. Waktu eksistensial misalnya sekarang, saat ini, kini, di sini. Manusia tidak banyak memanfaatkan waktu kekinian akibat pengaruh dari kemajuan teknologi, mereka sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya sia-sia. 


2.      Ruang

Ruang dibagi menjadi empat dimensi yaitu ruang objektif, ruang sosial, ruang relijius dan ruang tanpa aktivitas (istirahat).

a.  Ruang objektif adalah ruang di mana manusia berhubungan dengan objek berupa benda atau materi, baik objek abstrak seperti ide dan gagasan maupun objek ril seperti batu, gunung dan artefak buatan manusia. Hukum yang berlaku adalah hukum sebab akibat (kausalitas)

b.    Ruang sosial adalah ruang di mana manusia berinteraksi sesama manusia yang memiliki unsur dan nilai yang sama sebagai mahluk yang memiliki harkat dan martabat. Manusia memilki tiga untuk konstitutif dalam dirinya yaitu unsur materi (sebagaimana unsur-unsur yang ada di alam jagad raya), unsur biologis (sebagaimana yang ada pada hewan dan tumbuhan), dan unsur kesadaran (fitur yang membedakan antara manusia dengan mahluk yang ada di muka bumi). Hukum yang berlaku adalah hukum moral.

c.   Ruang Religius adalah ruang di mana manusia berhubungan dengan penciptanya dalam rangka penghambaan atas keimanan. Dengan ketakwaan Manusia menyandarkan segala sesuatu kepada penciptanya dalam rangka beribadah.


3.      Kesadaran

Kesadaran adalah fitur yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk otonom. Kedasaran mampu mendrive tindakan menunda “Delay Gravitation” sebagaimana berlaku pada hukum kausalitas. Manusia mampu menunda untuk marah, mereka bersabar tatkala dihina, manusia mampu mengolah kesabarannya demi kebaikan bersama.

Ada dua tipe kesadaran: Kesadaran ke luar adalah kesadaran yang melahirkan tindakan atas respon dari lingkungannya. Respon tindakan ini sama seperti tindakan hewan yang diarahkan atas pengaruh atau stimulus dari luar dirinya. Sedangkan respon tindakan yang lahir dari kesadaran ke dalam adalah tindakan mengingat, mengevaluasi diri, berzikir dan lain sebagainya.  


B.      Pembahasan

1.      Moderasi Beragama Dalam Ruang Objek

Prototipe relasi manusia dengan benda/materi atau dikenal dengan istilah relasi subjek dengan objek bercirikan bahwa manusia atau subjek menguasai objek tersebut. Manusia (subjek) mengendalikan, menggunakan, memanipulasi dan mengeksploitasi objek untuk kegunaan-kegunaan praktis. Objek adalah entitas yang tidak kuasa atas dirinya sendiri, ia tidak memiliki sistem delay of grivity dan tidak memiliki pilihan-pilihan tindakan.

Relasi ideal antara manusia dengan objek adalah dalam rangka sebagai instrumen yang semata-mata memberi manfaat bagi hubungannya dengan sesama manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Relasi yang terbangun dihajatkan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Disebut deviasi manakala manusia mengeksploitasi atau merusak alam tanpa memperdulikan dampak buruknya terhadap manusia yang lain.

2.      Moderasi Beragama melalui Relasi Manusia Dengan Sesama Manusia

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang merendahkan manusia yang lainnya karena perbedaan kepercayaan, perbedaan warna kulit, perbedaan kedudukan sosial, jabatan, kekayaan, gelar dan objek-objek yang lainnya. Konflik selalu berangkat dari ketersinggungan satu pihak oleh pihak yang lain, atau ketidakadilan satu pihak oleh pihak yang lain, merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih unggul, lebih pantas, lebih tinggi, lebih berpengalaman, lebih kaya, paling benar atau bahkan karena perbedaan pilihan menimbulkan konflik antar manusia.

Prototipe ideal relasi manusia dengan sesama manusia atau dikenal dengan relasi antara subjek dengan subjek adalah relasi saling berterima.. Hubungan manusia dengan manusia yang lain adalah relasi saling mengakui “recognize”, menghargai sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki harkat dan martabat.

 

3.      Moderasi Beragama melalui Relasi Manusia Dengan Tuhan.

Prototipe relasi ideal dengan Tuhan adalah relasi penghambaan oleh manusia terhadap pencipta-Nya. Relasi manusia dengan Tuhan dalam rangka penyerahan diri yang dalam aktivitasnya disebut ibadah. Oleh sebab itulah relasi subjek dengan objek dan relasi subjek dengan subjek dalam rangka ibadah kepada Tuhan. Indikator harmonisnya hubungan manusia dengan Tuhannya tercermin dari harmonisnya hubungan manusia tersebut dengan alam dan hubungannya di ranah sosial.


C.      Kesimpulan

Kesadaran bahwa manusia adalah yang paling penting dari pada sekedar objek alami maupun objek buatan menjadi penting guna menciptakan moderasi. Relasi manusia dengan subjek mengabdi pada harmonisasi hubungan antar sesama manusia bukan sebaliknya. Tidak menebang pohon bukan semata-mata melindungi alam namun lebih daripada itu yakni menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Relasi manusia dengan manusia yang lain menjadi prasyarat keharmonisan hubungan dengan Tuhan.



[1] Mohamad Fahri , Ahmad Zainuri, Moderasi Beragama di Indonesia, Jurnal Intizar,  Vol. 25, No. 2, (Desember 2019).