MODERASI PENDIDIKAN PESANTREN BERBASIS SEKOLAH PERJUMPAAN

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Kantor : JL Sunan Ampel II Blok C. No 9. BTN Bumi Kodya Asri Jempong Baru-Mataram Email : lakpesdampwnuntb@gmail.com // IG : @lakpesdampwnuntb // FB : Lakpesdam PWNU NTB contak person : 081239027536

Abu Macel

Abu Macel

MODERASI PENDIDIKAN PESANTREN BERBASIS SEKOLAH PERJUMPAAN

Wednesday, 24 November 2021

 

(Ishak Hariyanto)

 

Moderasi pendidikan menjadi cita-cita semua manusia di dunia ini, karena itu yang paling dasar dalam diri manusia guna menciptakan perdamaian dalam dunia pendidikan. Untuk menciptakan nperdamaian, kemajuan, dan moderasi dalam dunia pendidikan kita harus membenci kekerasan atas nama apapun, baik itu agama dan kemanusiaan. Manusia harus saling menghargai, menerima, menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Maka dalam menciptakan moderasi, dibutuhkan jalur pendidikan pesantren berbasis sekolah perjumpaan, dalam menghadapi gmpuran radikalisme. Karena penulis percaya bahwa dengan jalur pendidikan kita bisa mengubah peradaban manusia di tengah-tengah kekrisisan yang dihadapi.

Moderasi tak akan bisa tercipta tanpa adanya komunikasi atau dialog, karena komunikasi adalah tempat berlatih untuk menghilangkan permasalahan, dan juga mengekspresikan kebenaran. Komunikasi atau dialog adalah institusi yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang. Orang akan disebut sakit jika ia tidak pernah berinteraksi dengan sesama. Dalam berkomunikasi selalu ada hantaran bahasa saling kesefahaman. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari hingga kita tidak menyadarinya, ia bagaikan nafas yang ketika hirup baru kita sadar akan pentingnya. Jika nafas kita sesak, maka kita tidak mampu berfikir, tidak banyak yang dapat kita perbuat karena kita hanya akan terfokus pada sesak itu sendiri. Kita cenderung tidak menghargai nafas sebelum kita merasakan sesak nafas. Pun demikian halnya dengan bahasa ketika kita berkomunikasi.

Moderasi pendidikan pesantren saat ini hanya sebatas wacana tanpa ada konsepsi yang jelas, terlebih lagi moderasi pendidikan disampaikan hanya sebatas da’wah yang di mana penyampaian pesan-pesan moderasi kenabian baru sebatas ceramah di atas podium semata dan tidak memiliki efek psikologis terhadap perubahan tindakan. Maka dari itu, moderasi pendidikan pesantren harus dilakukan pada ranah perjumpaan pembelajaran moral yang mengarah pada perubahan tindakan sehingga moderasi pendidikan pesantren berbasis sekolah perjumpaan harus berbasis pada aspek pembelajaran tindakan.

Seperti yang dikatakan di atas bahwa moderasi pendidikan pesantren tidak bisa lepas dari bahasa. Karena moderasi pendidikan pesantren merupakan pembelajaran  yang berkatian dengan bagaimana menerapkan nilai kebenaran dalam ranah tindakan manusia. Pembelajaran selama ini telah terjadi ketidak seimbangan antara pemahaman, dan perilaku (moralitas) karena pembelajaran formal baru menyentuh ranah pengetahuan/kognisi saja, tak perlu di pungkiri lagi output dari sekolah formal, termasuk sekarang ini adalah orang-orang yang pintar tapi bukan orang-orang baik. Maka untuk menjawab hal tersebut moderasi pendidikan pesantren memberikan jalan keluar dan hal-hal yang harus dilakukan dalam setiap institusi pendidikan.

Dalam moderasi pendidikan pesantren bahwa institusinya adalah perjumpaan itu sendiri dan yang menjadi sarananya adalah pesantren, dan pembelajarannya terjadi ketika berkomunikasi atau dialog. Komunikasi adalah tempat berlatih untuk menghilangkan paksaan dalam mengekspresikan kebenaran. Komunikasi adalah institusi yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang karena semua orang membutuhkan komunikasi dalam menjalin suatu hubungan tanpa syarat. Komunikasi adalah pendukung dalam sistem moderasi pendidikan pesantren, karena tanpa komunikasi/bahasa maka dalam suatu kelompok masyarakat belum bisa dikatakan masyarakat yang komunikatif. Komunikasi juga sebagai tujuan manusia untuk memahami dan menginterpretasikan fenomena sekelilingnya. Komunikasi/bahasa merupakan modal sosial yang sangat penting yang dimiliki manusia untuk berinteraksi, memelihara, mengukuhkan, dan mengkonversi untuk saling mengubah, karena dalam bahasa terdapat unsur moralitas dalam menciptakan tindakan bersama collective action.

Dalam pandangan interaksionisme simbolik komunikasi atau interaksi itu penting sebagai tujuan untuk mengubah apapun dalam sistem sosial kemanusiaan. Tidak hanya itu komunikasi yang terjalin diantara semua individu adalah komunikasi untuk mencari kebenaran intersubyektif. Dan komunikasi  yang terjalin diantara semua memang menjadi tujuan, karena komunikasi pada dasarnya adalah tujuan, bukan sarana. Bila komunikasi adalah sarana, maka partisipan atau elemen-elemen yang terlibat di dalamnya adalah sarana juga. Komunikasi adalah tindakan primer dari komponen sistem sosial. Dan setiap koordinasi sosial adalah konsekuensi dari komunikasi. Apabila semua ini terjadi dalam ranah tujuan maka komunikasi akan menghasilkan tindakan sosial social action, tindakan sosial ini terjadi karena konsekwensi dari komunikasi.

Moderasi pendidikan pesantren ini juga berbasiskan kesadaran individu untuk terus menjalin komunikasi dengan cara terbuka sehingga proses saling keberterimaan tanpa syarat. Dengan kata lain, membangun hubungan secara tulus. Di samping itu juga, setiap status sosial sebisa mungkin untuk dilepaskan agar otoritas-otoritas tertentu tidak berperan dalam proses pembelajaran agar tidak tercipta iam my position. Tujuan untuk melepaskan status-status tersebut karena moderasi pendidikan pesantren berkaitan dengan pembelajaran tanpa syarat dan tendensi tertentu (imperative kategoris). Oleh karenanya, moderasi pendidikan pesantren mengindikasikan pembelajaran seumur hidup long life learners dan harus terus dilakukan oleh semua orang. Karena selama ini moderasi pendidikan pesantren seringkali dilupakan padahal pembelajaran ini merupakan basis dari semua pembelajaran, karena apabila ini berjalan dengan baik maka produk-produk pembelajaran akan cepat tercipta. Produk-produk tersebut seperti pintar, menghargai, jujur, bermoral dan bertanggungjawab. Mengapa demikian, karena basis pembelajarannya berjalan dengan efektif, karena manusianya yang dibangun berdasarkan asas kemanusiaan.

Moderasi pendidikan pesantren berbasis sekolah perjumpaan yang bisa ditawarkan dalam tulisan ini adalah gagasan bahwa semua jenis perjumpaan memiliki hanya satu tujuan yakni untuk memperjumpakan dan mempersatukan hati. Yang lainnya hanya dianggap sebagai tujuan sebenarnya bukan tujuan tetapi salah satu indikator dari kebehasilan perjumpaan. Aktivitas yang dimiliki perjumpaan untuk mencapai tujuan intrinsiknya ada dua: sikap batin  dan tindakan lahir, yaitu tindakan berbahasa (yang nantinya akan melahirkan tindakan tindakan lainnya yang non-bahasa). Moderasi pendidikan pesantren berbasis sekolah perjumpaan dalam hal ini sebagai lembaga untuk mempersatukan hati, maka sarana yang digunakan adalah positivitas emotioning dan positivitas tindakan berbahasa. Memilih negativitas dari keduanya akan membuat hati saling menjauh. Antara sarana dan tujuan harus sesuai, dan sarana yang baik adalah sarana yang paling efektif untuk mencapai tujuan. Ini tuntutan rasionalitas biasa. Bila hubungan baik dengan sesama adalah tuntutan eksistensial, maka masuk akal kenapa perjumpaan, emotioning, dan tindakan ilokusi adalah fenomena yang tidak bisa dihindari dalam hidup manusia, karena ketiganya adalah syarat wajib yang harus ada untuk tujuan konektivitas hati, tetapi bukan syarat cukup. Syarat cukup adalah beroperasinya positivitas yang terkait dengan emotioning dan tindakan tindakan ilokusi dalam setiap pembelajaran di pesantren.